Breaking

19.5.10

Ibadah ??


Apa yang penting dari ibadah? Perbuatan sembahyangnyakah, atau hidup beribadah itu sendiri? Upacara mengikat janji itu adalah hanya upacara saja, basa basi. Yang penting adalah hikmah keibadahan sebelum dan sesudah janji itu. Dan perwujudan secara konkrit dan inderiah, pasal demi pasal, dari yang telah dijanjikan itu.

Justru karena tak keburu aku mengikat janji dan menjadi rahib itulah, maka persoalanku menjadi tambah rumit begini. Tragikku adalah tragik dari sebelum tragik. Tragik rangkap dua, oleh sebab itu tambah nyeri untuk dirasakan. Sebab itulah aku mencoba membujuk dan menghibur diriku dengan cara memantulkan diriku kembali dengan segala tenaga yang masih ada padaku ke kondisi kemanusiaan yang satu lagi. Yaitu, kondisi diri manusia-hanya-manusia.

Katakanlah, manusia primer, yang hidup di taraf kehidupan nominal saja lagi. Aku telah mencobanya. Kini berhaklah aku berkata kepadamu, di kondisi yang satu lagi ini aku juga berhasil merasakan bahagia. Aku hidup terus menerus di ujung tajam dari saraf-saraf dan panca inderaku. Fisik aku harus banyak menanggung, memang. Tapi, asal saja kita berhasil melampaui persoalan fisik ini, maka hidup seperti inipun adalah setidaknya satu bentuk dan cara hidup tersendiri pula dan mempunyai segala haknya untuk juga disebut berbahagia.

Agaknya inilah bumi dari kaum fakir, kaum pertapa, para mistikus, yang membuat mereka selalu suka mencari daerah-daerah pelik dari kehidupan dan mempertontonkan rasa kebahagiaan yang asing bagi manusia-manusia dari kondisi hidup yang biasa. kini, tanpa ragu-ragu dapatlah pula aku berkata, inilah juga bumi kami kaum gelandangan. Inilah inti persoalan kaum gelandangan, dia bagian mana sajapun dari bumi ini mereka ada. Mereka adalah manusia-manusia yang bagi diri mereka sendiri telah berhasil membuat neraka menjadi surga di bumi ini.

Bahkan, mereka merasa punya kelebihan lain lagi dari jenis manusia-manusia lainnya. Yaitu, dari surga mereka di bumi ini mereka lempang menuju ke surga yang satu lagi. Yakni, yang di langit, yang sudah tentu lebih mewah dan lebih bahagia lagi dari surga mereka di bumi ini.


-Kaum Gelandangan, Merahnya Merah by Iwan Simatupang-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar